Fakta Tentang NAPZA: Pembelajaran dari Penelitian Pencegahan

Prinsip-prinsip berikut ini merupakan hasil dari penelitian jangka panjang mengenai perilaku penyalahgunaan NAPZA dan elemen umum dari program pencegahan yang efektif. Prinsip-prinsip ini dikembangkan untuk membantu praktisi program pencegahan dalam menggunakan hasil penelitian untuk mengatasi masalah penyalahgunaan NAPZA pada kelompok anak-anak, remaja, dan dewasa muda di seluruh lapisan masyarakat di berbagai negara. Orangtua, guru, dan pemimpin masyarakat (ketua RT/RW, dll) dapat menggunakan prinsip-prinsip ini untuk membantu mengarahkan cara berpikir, perencanaan, pemilihan, dan pelaksanaan program pencegahan penyalahgunaan NAPZA di tingkat masyarakat.

Program pencegahan secara umum didisain untuk digunakan pada setting khusus, seperti di rumah, di sekolah, atau di masyarakat. Namun, program ini juga dapat diadaptasi untuk digunakan dalam setting lainnya. Selain itu, program ini juga didisain untuk kelompok sasaran berikut: setiap orang di masyarakat, orang yang berisiko tinggi, dan untuk pecandu atau mereka yang memiliki masalah perilaku. Sejumlah program pencegahan dapat diterapkan pada lebih dari satu kelompok sasaran.

Program penelitian pencegahan NIDA berfokus pada risiko penyalahgunaan NAPZA dan masalah perilaku lainnya yang terjadi selama masa perkembangan anak, mulai dari kehamilan sampai dengan masa remaja. Penelitian yang didanai oleh NIDA dan badan federal Amerika Serikat lainnya – seperti National Institute of Mental Health (NIMH; Departemen Kesehatan Jiwa) dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC; Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular) – menunjukkan bahwa intervensi dini dapat mencegah banyak perilaku berisiko pada remaja.

Prinsip PERTAMA – Program pencegahan harus meningkatkan faktor pelindung dan mengubah atau mengurangi faktor risiko (Hawkins et al. 2002).
Risiko menjadi seorang pecandu melibatkan hubungan antara jumlah dan jenis faktor risiko (mis. sikap dan perilaku tidak normal) dan faktor pelindung (mis. dukungan orangtua) (Wills et al. 1996).

Pengaruh potensial dari faktor risiko dan pelindung tertentu berubah sesuai dengan pertambahan usia. Sebagai contoh, faktor risiko di dalam keluarga memiliki pengaruh yang sangat besar pada anak kecil, sementara pertemanan dengan teman sebaya yang pecandu dapat menjadi faktor risiko yang signifikan bagi seorang remaja (Gerstein and Green 1993; Dishion et al. 1999).

Intervensi dini terhadap faktor risiko (mis. perilaku agresif dan kendali diri yang lemah seringkali memiliki dampak yang besar dibandingkan dengan intervensi di tahap lanjutan dengan mengubah jalan hidup (lintasan) seorang anak menjauh dari masalah dan mengarah ke perilaku positif (Ialongo et al. 2001; Hawkins et al. 2008).

Meski faktor risiko dan pelindung dapat mempengaruhi semua orang, faktor-faktor tersebut dapat memiliki efek yang berbeda tergantung pada usia seseorang, jenis kelamin, kelompok etnis, budaya, dan lingkungan (Beauvais et al. 1996; Moon et al. 1999).

Prinsip KEDUA – Program pencegahan harus dapat mengatasi segala bentuk penyalahgunaan NAPZA, baik program tunggal maupun kombinasi, termasuk penggunaan obat-obatan legal pada anak di bawah umur (mis. rokok atau alkohol); penggunaan obat-obatan terlarang (mis. ganja atau putaw); dan penggunaan tidak tepat atas obat-obatan yang diperoleh dengan legal (mis. inhalan), obat resep, atau obat-obatan yang ditebus di apotik (Johnston et al. 2002).

Prinsip KETIGA – Program pencegahan dapat menjawab jenis masalah penyalahgunaan NAPZA di masyarakat lokal, menargetkan faktor risiko yang dapat dimodifikasi, dan memperkuat faktor pelindung yang diketahui (Hawkins et al. 2002)

Prinsip KEEMPAT – Program pencegahan harus dapat disesuaikan untuk dapat mengatasi risiko yang spesifik pada karakter populasi atau pendengar tertentu, seperti usia, jenis kelamin, dan kelompok etnis, untuk meningkatkan efektivitas program (Oetting et al. 1997; Olds et al. 1998; Fisher et al. 2007; Brody et al. 2008).5

Prinsip KELIMA – Program pencegahan berbasis keluarga harus dapat meningkatkan ikatan dan hubungan antar anggota keluarga dan mencakup kemampuan pengasuhan; praktek dalam pengembangan, diskusi, dan penguatan aturan-aturan dalam keluarga dan penyalahgunaan NAPZA; dan pelatihan mengenai informasi dan edukasi adiksi (Ashery et al. 1998).

Ikatan keluarga merupakan landasan fundamental dalam hubungan orangtua dan anak. Ikatan tersebut dapat diperkuat melalui pelatihan keterampilan dukungan orangtua terhadap anak, komunikasi orangtua-anak, dan keterlibatan orangtua (Kosterman et al. 1997; Spoth et al. 2004).

Pengawasan dan pemantauan orangtua merupakan bagian penting dalam pencegahan penyalahgunaan NAPZA. Keterampilan tersebut dapat ditingkatkan melalui pelatihan on-rule setting; cara melakukan kegiatan pemantauan; penghargaan bagi perilaku yang baik; serta disiplin yang moderat dan konsisten yang menekankan peraturan yang sudah disepakati dalam keluarga (Kosterman et al. 2001).

Informasi dan edukasi adiksi bagi orangtua atau pengasuh memperkuat hal-hal yang dipelajari oleh anak-anak mengenai dampak buruk NAPZA dan membuka kesempatan untuk diskusi tentang penyalahgunaan obat terlarang dan obat yang boleh digunakan (Bauman et al. 2001).

Intervensi singkat yang berfokus pada keluarga bagi masyarakat umum dapat memberikan perubahan positif bagi perilaku asuh tertentu sehingga dapat mengurangi risiko penyalahgunaan NAPZA (Spoth et al. 2002b).

Prinsip KEENAM – program pencegahan dapat didisain sebagai intervensi dini pada periode kanak-kanak untuk mengetahui faktor risiko penyalahgunaan NAPZA, seperti perilaku agresif, kemampuan sosial yang rendah, dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam urusan akademik (Webster-Stratton 1998; Olds et al. 1998; Webster-Stratton et al. 2001; Fisher et al. 2007).

Prinsip KETUJUH – Program Pencegahan bagi anak usia sekolah dasar harus menargetkan peningkatan pengetahuan akademik dan sosial-emosional untuk mengatasi faktor risiko penyalahgunaan NAPZA, seperti agresi di usia dini, kegagalan dalam bidang akademis, dan putus sekolah. Pendidikan harus berfokus pada kemampuan berikut ini (Conduct Problems Prevention Research Group 2002; Ialongo et al. 2001; Riggs et al. 2006; Kellam et al. 2008; Beets et al. 2009):
• Pengendalian diri
• Kesadaran emosional
• Komunikasi
• Pemecahan masalah sosial, dan
• Dukungan akademis, khususnya kemampuan membaca

Prinsip Ke-8 – Program Pencegahan bagi siswa SMP atau SMA harus dapat meningkatkan kompetensi akademis dan sosial melalui hal-hal berikut (Botvin et al. 1995; Scheier et al. 1999; Eisen et al. 2003; Ellickson et al. 2003; Haggerty et al. 2007):
• Kebiasaan belajar dan dukungan akademis
• Komunikasi
• Pertemanan
• Kemampuan diri (self-efficacy) dan sikap tegas
• Kemampuan menolak penyalahgunaan NAPZA
• Penguatan perilaku anti – NAPZA
• Penguatan komitmen diri melawan penyalahgunaan NAPZA

Prinsip ke-9 – Program Pencegahan ditujukan pada populasi umum yang berada di titik transisi, seperti transisi menuju sekolah menengah, dapat menghasilkan efek bermanfaat di kalangan anak dan keluarga yang berisiko tinggi terhadap penyalahgunaan NAPZA. Intervensi tersebut harus melibatkan populasi berisiko, sehingga dapat mengurangi proses pelabelan individu dan mempromosikan ikatan anak dan keluarga ke sekolah dan komunitas (Botvin et al. 1995; Dishion et al. 2002; Institute of Medicine 2009).

Prinsip ke-10 – Program pencegahan komunitas yang menggabungkan setidaknya dua program, seperti program berbasis keluarga dan sekolah, dapat lebih efektif dibandingkan satu program sendiri (Battistich et al. 1997; Spoth et al. 2002c; Stormshak et al. 2005).

Prinsip ke-11 – Program pencegahan komunitas menjangkau populasi dengan berbagai macam latar belakang –– contoh, sekolah, klub, organisasi berbasis agama, dan media –– merupakan cara paling efektif ketika program tersebut menyampaikan pesan yang konsisten ke masyarakat luas (Chou et al. 1998; Hawkins et al. 2009).

Prinsip ke-12 – ketika komunitas menyelaraskan suatu program agar sesuai dengan kebutuhan mereka, norma masyarakat, atau perbedaan karakter budaya, program tersebut harus tetap mempertahankan elemen kunci program intervensi (Spoth et al. 2002b; Hawkins et al. 2009), yang meliputi:
• Struktur (bagaimana program tersebut direncanakan dan disusun
• Konten/muatan program (informasi, keahlian, dan strategi program) dan
• Penyampaian (bagaimana program tersebut diadaptasi, dilaksanakan, dan dievaluasi)

Prinsip ke-13 – program pencegahan sebaiknya bersifat jangka panjang dengan intensitas intervensi berulang (mis. program tambahan “booster”) untuk meningkatkan tujuan program pencegahan. Penelitian menunjukkan bahwa manfaat dari program pencegahan di tingkat sekolah menengah akan hilang jika tidak diikuti dengan program lanjutan di sekolah tinggi (Botvin et al. 1995; Scheier et al. 1999).

Prinsip ke-14 – program pencegahan sebaiknya mencakup pelatihan praktik manajemen kelas yang baik bagi guru, seperti penghargaan bagi siswa yang berperilaku baik. Teknik tersebut membantu membentuk perilaku positif pada siswa, pencapaian, motivasi akademik, dan keterikatan terhadap kegiatan sekolah (Ialongo et al. 2001; Kellam et al. 2008).

Prinsip ke-15 – program pencegahan akan sangat efektif ketika melibatkan teknik interaktif, seperti kelompok diskusi sebaya dan bermain peran bagi orangtua, yang membuat keterlibatan aktif dalam pembelajaran mengenai penyalahgunaan obat dan keterampilan yang mendukung (Botvin et al. 1995).

Prinsip ke-16 – program pencegahan berbasis penelitian dapat menghemat biaya. Serupa dengan penelitian terdahulu, penelitian terkini menunjukkan bahwa setiap dolar yang diinvestasikan untuk pencegahan, menghemat biaya hingga 10 dolar dalam pengobatan ketergantungan alkohol dan penyalahgunaan NAPZA (Aos et al. 2001; Hawkins et al. 1999; Pentz 1998; Spoth et al. 2002a; Jones et al. 2008; Foster et al. 2007; Miller and Hendrie 2009).

Translated by: Abhipraya Team
Link to: https://www.drugabuse.gov/related-topics/prevention

References
Source: National Institute on Drug Abuse; National Institutes of Health; U.S. Department of Health and Human Services.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*