Gangguan Penggunaan NAPZA

PENGERTIAN  
Apa yang dimaksud dengan zat? Secara teknis, adalah setiap bahan kimia yang memengaruhi fungsi normal dari tubuh dan/atau otak. Tidak semua zat adalah ilegal. Sebagai contoh, kafein (terdapat dalam kopi atau Cola), nikotin (dalam rokok) dan alkohol adalah legal, meskipun penggunaannya dapat jadi berbeda. Obat-obatan, yang diresepkan oleh dokter dan diperoleh melalui apotik, adalah obat legal yang membantu proses penyembuhan dari suatu penyakit, namun demikian dapat juga disalahgunakan.
Definisi di atas,dapat bervariasi dan dapat dipengaruhi  sudut pandang medis, sehubungan dengan aturan dan pengertian medis mudah dipahami dengan baik. Ada juga yang mengartikannya sebagai bahan kimia yang sudah terbentuk secara alami, semi sintetik, atau sintetik.
Pada saat diabsorpsi (diserap) dalam tubuh ,obat  berinteraksi dan memengaruhi sel tubuh, organ tubuh, sistem tubuh melalui:
a.   Mempengaruhi fungsi tubuh normal (meningkatkan atau memperlambat proses tubuh atau level atau kualitas fungsi tubuh).
b.    Mempengaruhi aktivitas jaringan, organ , dan sistem tubuh.
c.    Mempengaruhi hormon dan enzim.
d.   Berdampak pada proses tubuh seperti pencernaan, pernapasan, sirkulasi darah, dan fungsi mental.
NAPZA adalah singkatan dari Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya. Semua zat tersebut termasuk zat psikoaktif.. Pengertian NAPZA/zat psikoaktif adalah zat  yang dapat mengubah mood, kognisi atau pikiran dan perilaku seseorang
Seseorang yang menggunakan zat psikoaktif dapat mengalami perubahan mental dan perilaku seperti menjadi lekas marah atau mudah tersinggung, perubahan proses berpikir dan respons/tindakan yang dilakukan seperti sulit berkonsentrasi dalam melakukan sesuatu, perubahan persepsi tentang kenyataan yang sebenarnya dialami, dan perubahan tingkat kewaspadaan serta respons terhadap waktu. Kondisi-kondisi tersebut muncul karena adanya interaksi atau pengaruh zat tersebut terhadap Susunan Saraf Pusat. Definisi Napza dari WHO (1982) adalah  “Semua zat kecuali makanan, air atau oksigen yang jika dimasukkan ke dalam tubuh dapat mengubah fungsi tubuh secara fisik dan atau psikologis” ( UNODC ).
           
PROSES  KETERGANTUNGAN  NAPZA
Banyak alasan orang menggunakan Napza , yang dapat terangkum dalam 3 hal dibawah ini :
a.  Fun (pleasure), misalnya untuk berkumpul bersama teman sebaya, merayakan suatu peristiwa/pesta.
b. Forget (pain amelioration),misalnya untuk melupakan kesedihan akibat perceraian orangtuanya , rasa duka akibat kehilangan orang yang dicintainya.
c.   Functional (purposeful),misalnya untuk masuk kalangan sosial tertentu, untuk melakukan suatu bisnis.
Pada setiap individu dengan konteks sosiokultural masing-masing, terdapat ragam penyebab penggunaan Napza yang terbagi atas faktor predisposisi, presipitasi dan faktor pendukung. Faktor predisposisi (faktor internal) dapat  mencakup adanya tekanan ekonomi  ( dan Napza dapat menjadi sumber keuangan ), atau karena trauma pribadi  ( kematian orang yang dikasihi, pelecehan seksual pada masa kecil).  Faktor presipitasi (faktor eksternal) dapat mencakup syarat atau keinginan agar dapat diterima dalam suatu grup atau kelompok yang sering menggunakan Napza . Sedangkan faktor pendukung termasuk suatu kondisi yang memperkuat penggunaan Napza (misalnya kualitas tembakau, alkohol atau Napza lain yang mendukung). Pandangan dan aspek sosial yang mendukung penggunaan Napza  juga penting dipertimbangkan.
Dengan adanya faktor-faktor di atas, orang mulai mengenal dan mungkin masuk dalam penggunaan Napza. Biasanya ada beberapa tahapan pada seseorang sampai dia masuk dalam fase ketergantungan, yaitu  :
a.  Orang yang suka coba-coba (experimenters). Pada tahap awal biasanya dimulai dengan mencoba Napza yang ditawarkan atau yang di peroleh, biasanya karena rasa penasaran atau ingin tahu.
b.  Pengguna dengan alasan sosial (social users), rekreasional , biasanya muncul pada :  tempat-tempat rekreasi atau hiburan; peristiwa sosial tertentu, seperti perayaan, peristiwa spesial, misalnya minum alkohol bersama teman-teman dalam suatu aktivitas sosial (misalnya pernikahan, pesta olahraga), menghisap ganja ketika mendengarkan musik.
Kondisi ini sering muncul pada orang yang : berpengalaman dengan Napza yang digunakan, mengetahui mana yang cocok untuk dirinya, waspada  terhadap keadaan/situasi pada saat menggunakan Napza.
 Dampak buruk/bahaya penggunaan yang sewaktu-waktu cenderung seperti akibat pada pengguna yang tidak berpengalaman atau kurangnya efek toleransi Napza (overdosis atau bahaya yang berhubungan dengan intoksikasi). 
c.   Penyalahgunaan Napza ( substance abuse ), adalah penggunaan Napza yang berulang serta maladaptif dan menimbulkan konsekuensi dampak yang negatif.
d.   Pengguna yang ketergantungan ( dependent users ), dimana penggunaan Napza secara teratur selama lebih dari 12 bulan. Ketergantungan adalah kondisi fisiologikal dari proses neuroadaptasi yang diakibatkan dari penggunaan berulang dari suatu Napza, keharusan  melanjutkan penggunaan untuk menghindari timbulnya gejala withdrawal. Berbagai mekanisme neuroadaptasi  muncul karena adanya transmisi kimia dari neurotransmiter yang spesifik.Proses neuroadaptasi membuat toleransi neuron reseptor meningkat karena menurunnya densitas reseptor sebab terjadinya internalisasi reseptor neuron ( Stahl MS ). Terdapat bukti bahwa struktur morfologi reseptor berubah sebagai akibat stimulasi yang terus menerus. Jadi ketergantungan menyebabkan kerusakan otak kronis dan menurunnya kemampuan otak .
Kriteria ketergantungan Napza ditegakkan berdasarkan DSM IV, yaitu :
tiga atau lebih dari butir-butir berikut terjadi disetiap saat dalam periode waktu 12 bulan:
a.     Toleransi
b.    Withdrawal/Putus zat
c.    Napza yang dikonsumsi jumlahnya semakin banyak
d.   Keinginan yang kuat untuk terus-menerus memakai Napza dan usaha yang sia-sia untuk berhenti
e.    Banyak membuang waktu dan melakukan aktivitas untuk mendapatkan Napza
f.     Mengalami masalah dalam kehidupan sosial, pekerjaan, atau fungsi rekreasi.
g.   Tetap menggunakan Napza walaupun mengetahui kerugian yang diakibatkan obat tersebut terhadap dirinya.
Toleransi adalah suatu kondisi dimana seseorang tidak lagi merespon obat-obatan seperti waktu yang sebelumnya dan dosis yang lebih tinggi dibutuhkan untuk mendapatkan efek yang sama. Berhubungan dengan hal ini adalah cross-tolerance dan cross-dependence, yang adalah kemampuan suatu Napza untuk mensupresi manifestasi dari ketergantungan fisik yang dihasilkan oleh Napza lain yang mempertahankan kondisi ketergantungan fisik. Sedangkan withdrawal atau gejala putus zat  adalah suatu periode waktu dimana seseorang yang ketergantungan terhadap obat atau zat adiktif lainnya  berhenti untuk mengkonsumsi obat-obatan, menyebabkan orang tersebut mengalami sindrom yang tidak nyaman (craving, nyeri, disforia, dan tanda-tanda aktivitas berlebihan dari sistem saraf simpatis). Gelala putus zat pada seseorang tergantung pada jenis Napza yang digunakan , namun secara umum si pengguna akan mengalami gangguan fisik dan/atau mental seperti:
a.      Tremor, kedinginan
b.      Kram
c.      Gangguan emosional
d.      Menurunnya kemampuan kognitif dan daya konsentrasi
e.      Halusinasi
f.       Kejang
Selain akibat gejala putus zat, maka pengguna kembali menggunakan Napza dapat diakibatkan adanya craving. Pengertian craving di sini adalah keinginan psikologis/ suatu hasrat yang sangat kuat atau dikenal dengan istilah nagih. Hasrat yang kuat akan terlihat selama penggunaan Napza dihentikan.
Terminologi lain yang juga berkaitan dengan kondisi di atas adalah kecanduan, yang mempunyai pengertian  suatu penyakit yang sifatnya kompleks, bersifat kompulsif dan pada saat yang bersamaan muncul keinginan yang kuat untuk mencari, dan menggunakan obat yang tidak terkontrol lagi, yang menjurus  pada dampak negatif. Jadi kecanduan pada dasarnya tidak hanya menyebabkan kerusakan otak  kronis dan kemampuan otak yang menurun, namun  juga  terjadi perubahan perilaku.