Klasifikasi dan Efek dari Gangguan Penggunaan Zat (Drugs)

Definisi Dasar (Terminologi)

Banyak sekali istilah (Terminologi ) yang berkaitan dengan gangguan Zat, yang berubah-ubah dalam hampir tiap dekade yang berbeda pula setiap institusi atau Negara.
Istilah Gangguan yang berhubungan dengan Zat diambil dari DSM IV 1994 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders), sedangkan di Indonesia dalam PPDGJ III (ISD-10) digunakan istilah Gangguan Mental dan Perilaku akibat penggunaan Zat Psikoaktif.

Untuk mengetahui masalah penggunaan dan penyalahgunaan zat penting bagi kita untuk mengenal beberapa istilah (definisi), yang akan dijelaskan dibawah ini pada umumnya dengan mengacu kepada buku DSM 1994 dan PPDGJ III.

Obat (Drug)

Suatu Zat yang masuk ke dalam tubuh dan dapat merubah fungsi dan struktur dari organ tubuh.

Ada 4 jenis Obat :

1.Obat Bebas : Ini merupakan tanda obat yang paling “aman”.

Obat bebas, yaitu obat yang bisa dibeli bebas di apotek, bahkan di warung, tanpa resep dokter, ditandai dengan lingkaran hijau bergaris tepi hitam. Obat bebas ini digunakan untuk mengobati gejala penyakit yang ringan. Misalnya : vitamin/multi vitamin (Livron B Plex, ).

2.Obat Bebas Terbatas : Obat bebas terbatas (dulu disebut daftar W), yakni obat-obatan yang dalam jumlah tertentu masih bisa dibeli di apotek, tanpa resep dokter, memakai tanda lingkaran biru bergaris tepi hitam. Contohnya, obat anti mabuk (Antimo), anti flu (Noza). Pada kemasan obat seperti ini biasanya tertera peringatan yang bertanda kotak kecil berdasar warna gelap atau kotak putih bergaris tepi hitam, dengan tulisan sebagai berikut :

P.No.1:Awas! Obat keras. Bacalah aturan pemakaiannya.

P.No.2:Awas! Obat keras. Hanya untuk bagian luar dari badan.

P.No.3:Awas! Obat keras. Tidak boleh ditelan.

P.No.4:Awas! Obat keras. Hanya untuk dibakar.

P.No.5: Awas! Obat keras. Obat wasir, jangan ditelan

3.Psikotropika : Psikotropika adalah Zat/obat yang dapat menurunkan aktivitas otak atau merangsang susunan syaraf pusat dan menimbulkan kelainan perilaku, disertai dengan timbulnya halusinasi (mengkhayal), ilusi, gangguan cara berpikir, perubahan alam perasaan dan dapat menyebabkan ketergantungan serta mempunyai efek stimulasi (merangsang) bagi para pemakainya.
Jenis –jenis yang termasuk psikotropika: ( Contoh ; Nipam, valium, Ecstasy dll ).

4.Narkotika : Adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menimbulkan pengaruh-pengaruh tertentu bagi mereka yang menggunakan dengan memasukkannya ke dalam tubuh manusia.

Pengaruh tersebut berupa pembiusan, hilangnya rasa sakit, rangsangan semangat , halusinasi atau timbulnya khayalan-khayalan yang menyebabkan efek ketergantungan bagi pemakainya. (Contoh: Morfin, Heroin dan turunannya).

Obat No.3 dan 4 termasuk Psychoactive Drug.

ZAT PSIKOAKTIF (PSYCHOACTIVE DRUG)

Suatu Zat yang masuk ke dalam tubuh dan tidak hanya merubah fungsi dan struktur organ tubuh tapi juga berpengaruh pada otak sehingga dapat menimbulkan perubahan:

1.Sistim Kesadaran.

2.Sistim Pola Pikir.

3.Sistim Perasaan.

4.Sistim Persepsi Panca Indra.

5.Perilaku.

ZAT PSIKOAKTIF DIGOLONGKAN MENJADI :

1.Depresan ( Depressants ) : Zat yang memperlambat fungsi SSP (susunan syaraf pusat) mengendorkan dan menenangkan dan membuat tidur.

2.Narkotika ( Narcotics ) : Zat yang mempunyai sifat menghilangkan rasa sakit (Powerful Painkillers),Anagesik (meringankan rasa sakit), dan biasanya menyebabkan ngantuk.

3.Stimulan (Stimulants) : Zat kimia yang mempercepat (Menstimulasi) fungsi susunan syaraf pusat yang mengakibatkan peningkatan gairah dan kewaspadaan.

4.Halusinogen (Hallucinogens) : Zat yang menghasilkan perubahan bizzare dalam pandangan (visual), pendengaran (auditory) dan Tactile perception, termasuk Dissociatives stages (merasa lepas dari tubuh).

5.Inhalansia (Inhalants) : Cairan pelarut kimia yang mudah menguap yang mempunyai efek apabila dihirup.

PENYALAHGUNAAN ZAT (DRUG ABUSE) :

Pemakaian narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya diluar indikasi media dan petunjuk medis sehingga pengguna tidak lagi mampu berfungsi secara wajar dalam masyarakat dan menunjukan perilaku maladaptif.

KETERGANTUNGAN ZAT (NAPZA) :

Penyalahgunaan Zat yang ditandai oleh adanya toleransi dan gejala putus zat (Withdrawal Symptom) :

TOLERANSI :

Adalah keadaan dimana untuk memperoleh khasiat yang sama dari suatu zat psikoaktif, makin lama diperlukan jumlah yang makin banyak.

Toleransi Sedang :

Adalah toleransi yang terjadi antara dua zat yang mempunyai khasiat farmakologik yang mirip, (Misalnya : alkohol dengan benzodiazepin/barbiturat).

Gejala Putus Zat :

Adalah gejala yang timbul bila seseorang yang telah ketergantungan zat mengurangi jumlah atau menghentikan zat yang dipakai.

Intoksifikasi :

Adalah perubahan mental perilaku akibat langsung dari penggunaan zat psikoaktif.

Kelebihan Dosis (OD – Over Doses):

Adalah keadaan fisik yang gawat akibat penggunaan suatu zat (psikoaktif) ditandai dengan adanya perubahan fisiologis seperti kesadaran, tekanan darah, pernapasan dan denyut nadi.

Habituasi :

Adalah suatu kondisi ketergantungan secara psikologis atau ketergantungan secara emosional (perlu dibedakan dengan adiksi).

Penggunaan Yang Merugikan (Harmful Use) :

Adalah pola penggunaan zat psikoaktif yang merusak kesehatan dapat berupa fisik (Misalnya : Hepatitis atau Mental Misalnya episode depresi pada komsumsi alkohol.

CARA PENGUNAAN:

Ada beberapa cara pemakaian obat/zat yang dapat memberikan efek pada organ tubuh, Yaitu :

Oral
Obat atau zat yang dimasukan ke dalam mulut dan akan masuk ke dalam perut (lambung). Didalam lambung mulai diabsorpsi dan proses dilanjutkan didalam usus. Setelah diabsorpsi ke dalam pembuluh darah obat/zat tersebut akan dialirkan ke seluruh tubuh. Dan efek dari zat tersebut bereaksi dalam tempo 20-30 menit.

Inhalasi
Zat yang dihisap melalui mulut akan langsung masuk ke paru-paru. Didalam paru-paru alveoli (kantong udara) menyerap zat masuk ke dalam sistim pembuluh darah kapiler yang ada di dalam paru-paru. Dari sini masuk ke dalam jantung setelah itu ke otak. Biasanya zat yang digunakan secara inhalansi memerlukan waktu 4-7 detik untuk memberikan efek.

Intravena
Zat yang disuntikan langsung ke pembuluh darah vena dimana akan langsung masuk ke paru-paru, jantung dan otak. Cara ini tidak terjadi proses absorpsi. Efek zat yang diberikan dengan sistim ini memakan waktu kira-kira 14 detik (10-20 detik).

Intranasal
Zat dihisap melalui hidung dan diabsorpsi di dalam mukosa rongga hidung melalui pembuluh darah kapiler. Melalui pembuluh darah vena masuk ke paru-paru, jantung dan otak. Efek zat yang diberikan dengan sistim ini memakan waktu 1-3 menit.

Instillasi (Instillation)

Absorpsi zat langsung oleh kulit dimana akhirnya akan mencapai pembuluh darah. Efek zat yang diberikan dengan sistim ini kira-kira memakan waktu 60 menit.

II.EPIDEMIOLOGI PENYALAHGUNAAN NAPZA

Terjadinya perubahan gaya hidup di seluruh dunia, globalisasi dengan disertai sepatnya arus informasi dan perpindahan penduduk, kecenderungan penyalahgunaan obat di Indonesia juga mengalami dampak perubahan drastis yang tanda-tandanya terlihat sejak sekitar 1980.

Meskipun tidak tercatat sebagai data meningkatnya penyalahgunaan stimulan (Ecstasy) terlihat nyata dikalangan kaum muda ketika itu, yang rupa-rupanya menjadi jembatan menuju penyalahgunaan Narkotika (Putaw/Heroin).

Penyalahgunaan Heroin harus menjadi perhatian segenap pihak disebabkan oleh karena kecepatannya dalam menimbulkan ketergantungan serta kesulitan penanganan dan penyembuhannya, terbukti dengan tingginya angka Relapse (kambuh) tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia.

III.PATOFISIOLOGI
Secara fisiologis setiap zat/obat yang masuk kedalam tubuh akan mengalami suatu roses metabolisme dan selanjutnya melalui aliran darah akan mencapai akan mencapai suatu titik tangkap tertentu di otak (sistim saraf pusat). Setelah terikat secara kimiawi di otak maka akan terjadi perubahan Neurotransmitter di sel-sel synapse dan selanjutnya akan terjadi perubahan bentuk pada proses pikir, perilaku, emosi, perasaan, maupun kesadaran dari individu pengguna.

Dampak dari pengguna obat/zat yang tidak sesuai dengan semestinya, tentu akan menganggu proses fisiologi dan fungsi otak dan hal ini akan menimbulkan suatu gangguan secara fisik maupun perilaku. Divawah ini akan digambarkan suatu reaksi dari obat di dalam tubuh yang dapat menimbulkan penyalahgunaan.

Proses reaksi obat di dalam tubuh manusia:

Obat masuk ke dalam tubuh – Proses adaptasi di otak mengurangi efek dari zat. Pemindahan dari efek zat maupun – Adaptasi yang menetap saat kerja obat menghilang – Proses kompensasi – Perasaan yang tidak menyenangkan (Withdrawal) – Penggunaan zat selanjutnya untuk melindungi gejala-gejala psikologis dan fisik.

IV.PATOPSIKOLOGI
Beberapa teori yang dianggap berperan dalam proses psikopatologi yang berhubungan dengan zat antara lain : Teori Biologik, Teori Psikologik, Teori Psikoanalisis, Teori Behavioral dan Teori Sosiologik.

  1. Teori Biologik

Teori ini berkembang setelah ditemukan adanya reseptor opiat dalam jaringan tubuh manusia di dalam otak.

b.Teori Psikologik

Teori ini didasarkan pada teori perkembangan remaja dan perubahan-perubahan secara fisik maupun psikologis yang dapat menyebabkan seseorang menyalahgunakan zat psikoaktif.

c.Teori Psikoanalisis

Teori ini didasarkan adanya hambatan dalam perkembangan psikoseksual (proses identifikasi) dan adanya proses depresi akibat ibu dan anak yang kurang hangat sejak usia dini.

d.Teori Behavioral

Teori ini didasarkan bahwa terjadinya ketergantungan merupakan suatu proses pembiasaan (conditioning) dimana ada empat faktor penguat (reinforcement factor):

1.Primary Reinforced : adanya perasaan subyektif yang menyenangkan suatu sebagai akibat langsung pemakaian zat.

2.Negative Reinforced : yaitu rasa sakit dan tidak enak akibat menghentikan zat tersebut.

3.Secondary Reinforced : adanya perubahan perilaku akibat memakai zat dimana ia tidak menjadi agresif dan lebih mudah mengadakan Interaksi sosial.

4.Secondary Negative : yaitu timbulnya gejala mirip putus zat bila seorang pecandu zat mengalami situasi atau melihat barang yang ada hubungannya dengan penggunaan zat tersebut

  1. Teori Sosiologik

Teori ini berbeda-beda untuk setiap negara / daerah, berdasarkan system social tempat tersebut.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*