Ragam Narkotika dan Zat Berbahaya Lainnya

OPIOIDA
Opioida adalah istilah yang digunakan untuk segolongan zat, baik yang alamiah semi sintetik atau yang sintetik
Opioida dibagi dalam tiga golongan besar yaitu :
1.Opioida alamiah : Morfin,Opium,Codein
2.Opioida semi sintetik : Heroin, Hidromorfin
3.Opioida sintetik : Meperidine, Propoksipen, Metadon

Opioida alamiah berasal dari tanaman “Papaver Somniverum”. Opioida adalah getah seperti susu yang keluar dari kotak: biji tanaman papaver somniverum yang belum masak. Getah ini, bila dikeringkan akan berwarna coklat yang dapat ditumbuk menjadi Opioida. Didalam Opioida mentah mengandung morfin 4-21% dan mengandung Codein 0,7-2,5%. Mekanisme Obat ini berhubungan dengan reseptor Opiat yang ada di hipotalamus dan sistim limbik yang merupakan bagian otak yang berhubungan dengan emosi dan perilaku seseorang, Terdapat tiga reseptor opiat, yaitu :
1.Mu (myu) Reseptor, Yang terutama mengikat morfin dan dijumpai pada area yang berhubungan dengan fungsi analgetik. Reseptor ini juga berhubungan dengan keadaan eforia, miosis, depresi pernafasan.
2.Kappa Reseptor, Yang mengikat ketoksiklasosin dan benzomorfin yang berhubungan dengan spinal analgesia, miosis dan sedasi.
3.Delta Reseptor, Yang mempunyai afinitas yang kuat dengan enkefalin dan berhubungan dengan miosis dan hipotensi.
Khasiat Opioida :
– Analgesik (menghilangkan nyeri)
– Hipnotik (menidurkan)
– Euforia (menimbulkan rasa gembira dan sejahtera secara berlebihan)
Opioida dapat diabsorpsi secara subkutaneus, intravena dan secara oral. Opiat yang terikat dengan plasma protein secara cepat meninggalkan darah dan terkonsentrasi pada paru-paru, hati, limpa dan ginjal. Otot sekletal juga merupakan reservor untuk obat ini ; Morfin dikonjugasikan di hati menjadi morfin glukuronat yang kemudian diekskresikan di urin.

Intoksikasi Opioida
DSM-IV mendefinisikan intoksikasi opioida dengan memasukkan perilaku maladaptif dan beberapa gejala spesifik pemakaian opioida. Pada umumnya, adanya perubahan mood, retardasi psikomotor, mengantuk, bicara cadel dan gangguan daya ingat dan perhatian dengan adanya indikator lain pemakaian opioida yang baru saja dengan kuat mengarahkan suatu diagnosis intoksikasi opioida DSM-IV memungkinkan spesifikasi “dengan gangguan depresi”.

Putus Opioida
Pedoman umum tentang onset dan lamanya gejala putus adalah bahwa zat dengan lama kerja yang singkat cenderung menyebabkan sindroma putus zat yang singkat dan kuat dan zat dengan lama kerja yang panjang menyebabkan sindroma putus zat yang lama tetapi ringan. Suatu pengecualian untuk aturan tersebut adalah bahwa putus zat yang dicetuskan oleh antagonis narkotika setelah ketergantungan opiat atau opioida kerja panjang yang berat.
Suatu sindroma abstinensia dapat dicetuskan oleh pemberian suatu antagonis opiat. Gejala mungkin dimulai dalam beberapa detik menyuntikan intravena dan dapat memuncak dalam kira-kira satu jam. Kecanduan opiat jarang terjadi dalam konteks pemberian analgesik untuk menghilangkan nyeri akibat gangguan fisik atau pembedahan. Sindroma putus zat yang lengkap, termasuk kecanduan yang kuat akan opiat atau opioida,biasanya terjadi hanya sekunder terhadap suatu pemutusan penggunaan yang tiba-tiba pada seseorang dengan ketergantungan opioida.

Morfin dan Heroin
Sindroma putus morfin dan heroin dimulai dalam enam sampai delapan jam setelah dosis terakhir, biasanya setelah suatu periode satu sampai dua minggu pemakaian kontinu atau pemberian antagonis narkotika. Sindroma putus zat mencapai puncak intensitasnya selama hari kedua atau ketiga dan menghilangkan selama 7 sampai 10 hari setelahnya. Tetapi beberapa gejala mungkin menetap selama enam bulan atau lebih lama.

Meperidine
Sindroma putus zat dari meperidine dimulai dengan cepat, mencapai puncak dalam 8 sampai 12 jam, dan selesai dalam 4 sampai 5 hari.

Methadone
Putus zat methadone biasanya dimulai satu sampai tiga hari setelah dosis terakhir dan selesai dalam 10 sampai 14 hari.

Gejala Putus Opioida secara resmi didefinisikan dalam DSM-IV ganguan terdiri dari kram otot parah dan nyeri tulang, diare berat, kram abdomen, rinorea, lakrimasi, piloereksi atau “Gooseflesh” (dari mana timbul istilah keledai dingin untuk sindroma abstinessi), menguap, demam, dilatasi pupil, hipertensi, takikardia dan regulasi temperatur, termasuk hipotermia dan hipertemia. Seseorang dengan ketergantungan opioida jarang meninggal akibat putus opioida, kecuali orang tersebut memiliki penyakit fisik dasar yang parah, seperti suatu penyakit jantung. Gejala residual seperti insomnia, bradikardia, disregulasi temperatur dan kecanduan opiat atau opioida mungkin menetap sebulan setelah putus zat. Pada tiap waktu selama sindroma abstinensi, suatu suntikan tunggal morfin atau heroin menghilangkan semua gejala. Gambaran penyerta putus opioida adalah kegelisahan, iritabilitas, depresi, tremor, kelemahan, mual dan muntah.

Gangguan Psikotik Akibat Opioida
Gangguan psikotik akibat opioida dapat dimulai selama intoksikasi opioida. Klinisi dapat menentukan apakah predominan adalah halusinasi atau waham.

Gangguan Mood Akibat Opioida
Gangguan mood akibat opioida yang dapat dimulai selama intoksikasi opioida. Gejala gangguan mood akibat opioida mungkin bersifat manik (sangat gembira), depresi atau campuran. tergantung pada respon seseorang terhadap opiat atau opioida. Seseorang yang datang ke perhatian psikiatrik dengan gangguan mood akibat opioida biasanya mempunyai gejala campuran, suatu kombinasi iritabilitas, perasaan meluap-luap dan depresi.

Gangguan Tidur Akibat Opioida dan Disfungsi Seksual Akibat Opioida
Hipersomnia kemungkinan merupakan gangguan tidur yang paling sering pada opiat dan opioida dibandingkan insomnia. Disfungsi seksual yang paling sering kemungkinan adalah impotensi.

GANJA (MARIJUANA)
Ganja berasal dari tanaman kanabis sativa dan kanabis indica, Pada tanaman ganja terdapat tiga kandungan zat utama yaitu :
1.Tetrahidro Kanabinol
2.Kanabino
3.Kanabidiol
Diantara ketiga zat tersebut yang mempunyai komponen Psikoaktif yang tersebar adalah “delta 9 Tetrahidro Kanabinol”. Senyawa ini secara cepat dikonversi menjadi “11 hidroksi delta 9 Tetrahidro Kanabinol” yang merupakan metabolit yang aktif pada susunan syaraf pusat.
Marijuana bersifat : Depresan, stimulan, sedikit analgetik bahkan mempunyai efek halusinogen.
Nama jalanan Ganja : Cimeng, Gele, Marijuana,Thai Sticks, Sinsemilia dll

Kadar tertinggi Tetrahidro Canabinol (THC) terdapat pada tanaman betina yang sedang berbunga dan juga pada daun dan rantingnya. THC diarbsorpsi secara bervariasi tergantung pada individunya sendiri, cara pemakaian dan efisiensi dari pemakaian.
Dengan cara dirokok, kadar THK yang diserap dalam aliran darah dapat mencapai 50% dan puncak plasma levelnya dalam waktu 70 menit, kemudian turun dalam waktu satu jam dan pengaruhnya hilang setelah 6 jam, pemakaian secara oral kira-kira mengandung THK 1/3 didalam darah daripada bila dihisap dan nampak pengaruhnya 50-120 menit setelah ditelan. Dari aliran darah THK masuk ke dalam sel, masih tetap terikat pada plasma protein, atau dideposit dalam lemak dimana masih mungkin ditemukan setelah 2-3 minggu.

Penggunaan yang lama dapat menyebabkan :
– Meningkatnya gangguan pada paru-paru
– Menjadi apati dan letargi
– Keracunan pada sistim reproduksi baik pada pria maupun wanita.

HALUSINOGEN
Halusinogen disebut sebagai Psikedelik atau Psikotomimetik karena, disamping menyebabkan halusinasi, obat tersebut menyebabkan hilangnya kontak dengan realitas dan suatu peluasan dan peninggian kesadaran. Halusinogen diklasifikasikan sebagai obat daftar I; Food and Drug Administration (FDA) telah menyatakan bahwa obat tersebut tidak memiliki penggunaan medis dan memiliki kemungkinan penyalahgunaan yang besar.
Halusinogen alami klasik adalah :
– Psilocybin ( dari semacam jamur)
– Meskalin ( dari kaktus peyote)

Halusinogen alami lainnya adalah :
– Harmin
– Harmiline
– Ibogaine
– Dimethyltrytamine
Halusinogen sintetik klasik adalah :
Lysergic Acid Diethylamide (LSD), yang disistesis tahun 1938 oleh Albert Hoffman, yang selanjutnya secara tidak sengaja mengingesti sejumlah obat dan mengalami episode halusinogenik akibat LSD yang pertama.
Informasi Tentang Halusinogen :
– Zat halusinogen mengubah susana hati (mood), pikiran dan persepsi.
– Meskipun zat-zat halusinogen membuat depresi susunan syaraf pusat, halusinogen juga dapat bersifat menstimulasi susunan syaraf pusat.
– Halusinogen adalah zat alamiah, kecuali LSD (Lysergic Acid Diethylamide) dan PCP (Phencyclidine).
– Halusinogen ditemukan ribuan tahun yang lalu.
– Bila digunakan dalam jumlah yang banyak, Halusinogen menimbulkan efek toksik (racun) dan dapat berakibat fatal.
– Halusinogen dapat menyebabkan ketergantungan psikologi tetapi tidak menyebabkan ketergantungan fisik.
-Mengemudi dibawah pengaruh penggunaan halusinogen sangat membahayakan.

DEPRESAN (DEPRESSANTS)
Yang termasuk golongan depresan :
a. Zat sedatif dan hipnotis (Barbiturat dan non barbiturat)
b. Ethanol (Ethyl Alcohol) ; jenis-jenis minuman beralkohol ( dan juga ada di bbrp obat batuk)
c. Minor Tranquilizer (Diazepam / Valium dan Chordiazepoxide / Libium)

Sedatif adalah obat yang menurunkan ketegangan “sedatif” sesungguhnya sama dengan istilah “ansiolitik” yaitu obat yang menurunkan kecemasan.

Hipnotik adalah obat yang digunakan untuk menginduksi tidur. pembedaan secara ansiolitik dan sedatif sebagai obat di siang hari dan hipnotik sebagai obat di malam hari adalah tidak akurat. Jika sedatif dan ansiolitik diberikan dengan dosis tinggi, obat tersebut dapat menginduksi tidur, seperti yang disebabkan oleh hipnotik.
Sebaliknya, Jika hipnotik diberikan dalam dosis yang terlalu rendah, obat dapat menginduksikan sedasi pada siang hari, seperti yang disebabkan oleh sedatif dan ansiolitik. Didalam beberepa literatur, terutama literatur yang lama, sedatif, ansiolitik, hipnotik dikelompokkan bersama-sama sebagai tranquilizer minor. Istilah tersebut tidak didefinisikan dengan baik dan mempunyai arti yang berarti dua, dan dengan demikian harus dihindari.

Obat-obat yang berada dalam kelas gangguan berhubungan dengan zat ini adalah:
a. Benzodiazepin sebagai contohnya Diazepam (Valium)
b. Barbiturat sebagai contohnya secobarbital (seconal) dan zat mirip dengan barbiturat :
Methaqualone (Quaalude)
Meprobamate (Equanil)
Glutethimidde (Doriden)
Indikasi nonpsikiartrik utama untuk obat tersebut adalah sebagai antipileptik, pelemas otot, anestetik, dan adjuvan anestetik. Semua obat didalam kelas ini dan alkohol memiliki toleransi silang dan efeknya adalah adiktif. ketergantungan fisik dan psikologis berkembang terhadap semua obat dan semuanya disertai dengan gejala putus zat.

NEUROFARMAKOLOGI
Benzodiazepin, barbiturat dan zat mirip barbiturat semuanya mempunyai efek pada kompleks reseptor gamma-aminobutyric acid tipe A (GABA.A), yang mempunyai suatu saluran ion klorida, suatu tempat ikatan untuk GABA, dan tempat ikatan yang ditentukan dengan baik untuk benzodiazepin. Barbiturat dan zat mirip barbiturat dianggap berikatan disuatu tempat kompleks GABA.A. Jika suatu benzodiazepin, barbiturat, atau zat mirip barbiturat memang berikatan dikompleks, efeknya adalah meningkatkan afinitas reseptor untuk neurotransmitter endogennya. GABA dan untuk meningkatkan aliran ion klorida yang bermuatan negatif ke dalam neuron adalah terhambat, dengan demikian keadaan ini menyebabkan hiperpolarisasi neuron relatif terhadap ruang ekstraseluler.
Walaupun semua zat didalam kelas ini menginduksi toleransi dan ketergantungan fisik, mekanisme di belakang efek tersebut adalah paling dimengerti untuk benzodiazepin. Setelah penggunaan benzodiazepin jangka panjang terdapat pelemahan efek reseptor yang disebabkan oleh agonis.
Secara spesifik, setelah penggunaan benzodiazepin jangka panjang stimulasi GABA pada reseptor GABA.A menyebabkan influks klorida yang lebih sedikit dibandingkan yang disebabkan oleh stimulasi GABA sebelum pemberian benzodiazepin.
Regulasi menurun dari respon reseptor tidak disebabkan oleh penurunan jumlah reseptor atau penurunan afinitas reseptor untuk GABA. Dasar untuk regulasi menurun tampaknya berada dalam kopel antara tempat ikatan GABA dan aktivasi saluran ion klorida. Penurunan efisiensi dalam kopel dapat diregilasi di dalam kompleks reseptor GABA.A sendiri atau oleh mekanisme neuronal lainnya.

STIMULAN (STIMULANTS)
Yang termasuk golongan stimulan :
Kokain (Cocaine)
Amfetamin (Amphetamine)
Nikotin (Nicotine)
Kafein (Caffein)

KOKAIN
Kokain adalah zat yang paling adiktif yang sering disalahgunakan dan merupakan zat yang paling berbahaya. Kokain disebut bermacam-macam dengan snow, coke dll juga disalahgunakan dalam bentuknya yang paling poten, free-base dan crack (crack-cocaine). Kokain merupakan alkohol yang didapat dari tanaman belukar Erythroxylon coca, yang berasal dari Amerika Selatan, dimana daun dari tanaman belukar dikunyak-kunyah oleh penduduk setempat untuk mendapatkan efek stimulasi. Alkoloid kokain pertama kali diisoiasi di tahun 1860 dan pertama kali digunakan sebagai anestetik lokal, khususnya untuk pembedahan mata, hidung dan tenggorokan, karena efek vasokonstriktifnya juga membantu, Di tahun 1884-an dan 1890-an, Kokain digembar-gemborkan secara luas sebagai obat untuk banyak penyakit, tetapi di tahun 1914, Kokain diklasifikasikan sebagai suatu narkotik, bersama dengan morfin dan heroin, karena efek adiktif dan efek merugikannya telah dikenali.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*